SERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang terus melakukan berbagai upaya untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Salah satunya, kampanye Linfaskes atau cakupan persalinan di fasilitas kesehatan yang sekarang dilaksanakan.
“Kita juga sedang buat tim untuk penanganan dari tingkat kabupaten hingga desa,” kata Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah di Halaman Pendopo Kabupaten Serang, Rabu (9/10/2019).
Tatu menjelaskan, Pemkab Serang membutuhkan komponen masyarakat yang sudah matang untuk sosialisasi secara masif kepada masyarakat.
“Kan tingginya tingkat AKI dan AKB sudah ditetapkan kategori siaga satu, jadi kami tangani secara serius,” tegasnya.
Ia juga menilai, ibu hamil harus peka terhadap kesehatan dan menjaga pola hidup sesuai aturan, agar kandungannya terjaga sehingga tidak terkena hipertensi. “Kami sudah sediakan tim Kibla yang sudah berjalan, mereka sudah gencar untuk sosialisasi persalinan dengan fasilitas kesehatan,” tuturnya.
Orang nomor satu di Kabupaten Serang ini berharap, dengan adanya pendampingan secara khusus, maka tidak ada lagi ibu hamil yang melahirkan melalui dukun. ”Semuanya harus difasilitas kesehatan pertama. Semoga dengan demikian, angka AKI dan AKB di Kabupaten Serang bisa segera menurun,” inginnya.
Diketahui, penyebab kematian ibu dan bayi terdapat unsur langsung seperti, komplikasi saat kehamilan, pendarahan, infeksi, dan persalinan macet. Sedangkan, unsur yang tidak langsung adalah ibu hamil yang terkena penyakit menular seperti HIV AIDS, TBC, dan hipertensi. “Ibu hamil harus ada yang mendampingi supaya anak dan ibunya bisa selamat,” imbuhnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Sri Nurhayati menyampaikan, untuk AKI di Kabupaten Serang sendiri hingga Oktober sudah mencapai 47 sedangkan AKB ada 22.
“Hanya saja, bukan data resmi ya. Kami hanya melakukan observasi saja, bila resminya pihak BPS yang mengeluarkan. Biasanya setiap akhir tahun,” tuturnya.
Sri juga berpesan, warga sekitar memiliki peran penting untuk kerjasama dengan petugas kesehatan sebagai upaya minimalisir AKI dan AKB. “Warga cukup membantu pola hidupnya agar terjaga. Jika menemukan kesulitan maka panggil petugas kesehatan terdekat,” pungkasnya.(muh)














