Di tengah tantangan kurikulum dan fasilitas yang terbatas, nama Khaerunisa seorang mahasiswa semester akhir ini menyebarkan ilmu pendidikannya hingga pelosok Banten, Bukan karena penghargaan nasional, melainkan karena metode pengajarannya yang inovatif dan kemampuannya mengubah suasana kelas yang kaku menjadi panggung kreativitas bagi para muridnya.
Sejak mengajar khaerunisa selalu percaya bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang harus diasah. Ia menyadari bahwa pelajaran untuk anak-anak sering kali dianggap membosankan, karena itu, ia menciptakan metode agar anak-anak muridnya tidak bosan dalam mata pelajarannya.
Khaerunisa mengatakan, dirinya percaya, kebaikan sering lahir dari langkah sederhana. Tidak selalu dalam bentuk yang besar atau monumental, tetapi justru dari aksi kecil yang dilakukan dengan tulus. Dari satu langkah, lahirlah jejak yang bisa mengubah cara pandang, menumbuhkan harapan, bahkan menghadirkan senyum pada wajah orang lain.
”Saya belajar, bahwa setiap aksi kecil yang saya lakukan, bila dijalani dengan konsistensi dan keikhlasan, bisa melahirkan dampak yang besar, Pengalaman itu saya rasakan ketika bergabung di Youth Prime Education, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Bersama teman-teman, saya mengajar anak-anak SMA, membantu mereka memahami jalur menuju perguruan tinggi. Saya berbagi pengetahuan tentang SBMPTN, SNMPTN jalur rapor, seleksi mandiri, hingga jalur KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah yang dibiayai penuh oleh pemerintah. Saya ingin menunjukkan bahwa kuliah bukan hanya untuk mereka yang mampu secara ekonomi, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha dan berdoa,”ujarnya.
Ia melanjutkan, dirinya tidak hanya mengajar di sekolah-sekolah besar di perkotaan, tetapi juga berkunjung ke berbagai SMA, baik sekolah negeri maupun sekolah di wilayah pelosok.
”bahkan saya peribadi mengajar tempat-tempat yang pelosok, saya menemukan kenyataan berbeda, ada anak-anak yang bahkan tidak mengenal kata kuliah. Bagi mereka, lulus sekolah berarti langsung bekerja, tanpa sempat memikirkan pendidikan lebih tinggi. Dari situ, saya merasa terpanggil untuk mengubah pola pikir mereka. Saya ingin menanamkan kesadaran bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa, generasi emas yang kelak menentukan arah negeri ini. Dengan memberi informasi tentang jalur KIP, saya berharap mereka menyadari bahwa mimpi kuliah bukan lagi sesuatu yang mustahil. Pendidikan bisa diraih tanpa beban biaya, karena pemerintah telah membuka jalan untuk itu,”katanya.
lanjutnya, Selain di bidang pendidikan, pengalaman lain yang dijalakannya adalah saat menjadi relawan banjir di Banten.
”Saya melihat langsung rumah-rumah terendam, barang-barang hanyut dan masyarakat yang harus bertahan dengan keterbatasan. Bersama relawan lain, saya tidak hanya membagikan bingkisan kebutuhan pokok, tetapi juga ikut membersihkan rumah-rumah warga yang kotor oleh lumpur serta membantu memindahkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Meski tenaga yang saya berikan terbatas, wajah lega para korban membuat saya yakin bahwa kehadiran kami berarti,”ungkapnya.
Khaerunisa yang di sapa Nisa mengingat kembali bahwa ini seorang ibu menyambut bingkisan sederhana dengan mata berkaca-kaca dan seorang anak kecil yang tersenyum sambil menggenggam makanan.
”dari itu saya belajar bahwa sekecil apapun bantuan, baik tenaga maupun materi, bisa menjadi cahaya harapan bagi orang yang sedang kesusahan. Dari pengalaman mengajar hingga terjun dalam aksi sosial, saya memahami bahwa dampak tidak selalu diukur dari besar kecilnya tindakan, melainkan dari ketulusan dan kepedulian. Aksi kecil yang saya lakukan mampu menyalakan harapan, memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan semangat serta optimisme,”ucapnya.
Ia mengungkapkan, Bahagia bagi dirinya adalah saat menyadari bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari cerita orang lain, membantu mereka melangkah, meski hanya sedikit. Bahagia adalah ketika melihat bahwa dampak dari tindakan kecil yang lakukan ternyata tumbuh menjadi sesuatu yang besar, yang mungkin tak pernah bayangkan sebelumnya.
”Hari ini, saya ingin merayakan kebahagiaan itu. Merayakan bahwa setiap langkah kecil yang saya tempuh, setiap tenaga yang saya curahkan, adalah investasi bagi perubahan yang lebih luas. Karena saya percaya, dari aksi kecil menuju dampak besar, saya dan kita semua punya peran untuk membuat dunia lebih baik,”tutupnya. (IDN)
Di tengah tantangan kurikulum dan fasilitas yang terbatas, nama Khaerunisa seorang mahasiswa semester akhir ini menyebarkan ilmu pendidikannya hingga pelosok Banten, Bukan karena penghargaan nasional, melainkan karena metode pengajarannya yang inovatif dan kemampuannya mengubah suasana kelas yang kaku menjadi panggung kreativitas bagi para muridnya.
Sejak mengajar khaerunisa selalu percaya bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang harus diasah. Ia menyadari bahwa pelajaran untuk anak-anak sering kali dianggap membosankan, karena itu, ia menciptakan metode agar anak-anak muridnya tidak bosan dalam mata pelajarannya.
Khaerunisa mengatakan, dirinya percaya, kebaikan sering lahir dari langkah sederhana. Tidak selalu dalam bentuk yang besar atau monumental, tetapi justru dari aksi kecil yang dilakukan dengan tulus. Dari satu langkah, lahirlah jejak yang bisa mengubah cara pandang, menumbuhkan harapan, bahkan menghadirkan senyum pada wajah orang lain.
”Saya belajar, bahwa setiap aksi kecil yang saya lakukan, bila dijalani dengan konsistensi dan keikhlasan, bisa melahirkan dampak yang besar, Pengalaman itu saya rasakan ketika bergabung di Youth Prime Education, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Bersama teman-teman, saya mengajar anak-anak SMA, membantu mereka memahami jalur menuju perguruan tinggi. Saya berbagi pengetahuan tentang SBMPTN, SNMPTN jalur rapor, seleksi mandiri, hingga jalur KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah yang dibiayai penuh oleh pemerintah. Saya ingin menunjukkan bahwa kuliah bukan hanya untuk mereka yang mampu secara ekonomi, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha dan berdoa,”ujarnya.
Ia melanjutkan, dirinya tidak hanya mengajar di sekolah-sekolah besar di perkotaan, tetapi juga berkunjung ke berbagai SMA, baik sekolah negeri maupun sekolah di wilayah pelosok.
”bahkan saya peribadi mengajar tempat-tempat yang pelosok, saya menemukan kenyataan berbeda, ada anak-anak yang bahkan tidak mengenal kata kuliah. Bagi mereka, lulus sekolah berarti langsung bekerja, tanpa sempat memikirkan pendidikan lebih tinggi. Dari situ, saya merasa terpanggil untuk mengubah pola pikir mereka. Saya ingin menanamkan kesadaran bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa, generasi emas yang kelak menentukan arah negeri ini. Dengan memberi informasi tentang jalur KIP, saya berharap mereka menyadari bahwa mimpi kuliah bukan lagi sesuatu yang mustahil. Pendidikan bisa diraih tanpa beban biaya, karena pemerintah telah membuka jalan untuk itu,”katanya.
lanjutnya, Selain di bidang pendidikan, pengalaman lain yang dijalakannya adalah saat menjadi relawan banjir di Banten.
”Saya melihat langsung rumah-rumah terendam, barang-barang hanyut dan masyarakat yang harus bertahan dengan keterbatasan. Bersama relawan lain, saya tidak hanya membagikan bingkisan kebutuhan pokok, tetapi juga ikut membersihkan rumah-rumah warga yang kotor oleh lumpur serta membantu memindahkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Meski tenaga yang saya berikan terbatas, wajah lega para korban membuat saya yakin bahwa kehadiran kami berarti,”ungkapnya.
Khaerunisa yang di sapa Nisa mengingat kembali bahwa ini seorang ibu menyambut bingkisan sederhana dengan mata berkaca-kaca dan seorang anak kecil yang tersenyum sambil menggenggam makanan.
”dari itu saya belajar bahwa sekecil apapun bantuan, baik tenaga maupun materi, bisa menjadi cahaya harapan bagi orang yang sedang kesusahan. Dari pengalaman mengajar hingga terjun dalam aksi sosial, saya memahami bahwa dampak tidak selalu diukur dari besar kecilnya tindakan, melainkan dari ketulusan dan kepedulian. Aksi kecil yang saya lakukan mampu menyalakan harapan, memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan semangat serta optimisme,”ucapnya.
Ia mengungkapkan, Bahagia bagi dirinya adalah saat menyadari bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari cerita orang lain, membantu mereka melangkah, meski hanya sedikit. Bahagia adalah ketika melihat bahwa dampak dari tindakan kecil yang lakukan ternyata tumbuh menjadi sesuatu yang besar, yang mungkin tak pernah bayangkan sebelumnya.
”Hari ini, saya ingin merayakan kebahagiaan itu. Merayakan bahwa setiap langkah kecil yang saya tempuh, setiap tenaga yang saya curahkan, adalah investasi bagi perubahan yang lebih luas. Karena saya percaya, dari aksi kecil menuju dampak besar, saya dan kita semua punya peran untuk membuat dunia lebih baik,”tutupnya. (IDN)















