SERANG – Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Pengprov Porserosi) Banten Ramang Agus dimosi tidak percaya oleh para pengurus cabang (pengcab) kabupaten/kota. Alasannya, yang bersangkutan diduga menjalankan organisasi secara tidak sehat, sehingga terlihat seperti perusahaan keluarga.
Pengcab yang melayangkan mosi tidak percaya adalah Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dan Kota Serang. Sedangkan Kota Tangerang dan Kabupaten Serang memilih untuk netral.
Ketua Umum Pengcab Porserosi Kota Tangerang Selatan, Henky Hendrayana Surya mengatakan, mosi yang dilayangkan adalah puncak kekesalan para pengcab yang sudah tidak tahan dan kecewa dengan kepemimpinan Ramang Agus.
Hengky membeberkan beberapa keluhan para pengcab. Yakni program Bidang Prestasi (Binpres) untuk kemajuan prestasi tidak direspon dengan baik, sehingga tidak ada progres dari atlet-atlet Banten secara luas.
Lalu, kata dia, pasangan ketum dan Bendahara II merupakan suami istri yang hanya berpikir serta menjalankan organisasi untuk kepentingan salah satu pengcab saja. Berikutnya, hingga sekarang belum pernah ada rapat Pengprov Porserosi Banten yang mengundang para ketua pengcab Porserosi se-Banten untuk membahas kemajuan Banten. Selalu diputuskan secara sepihak dan tidak mengakomodir usulan para pengcab.
Pun untuk mengikuti Babak Prakualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, bukannya menggunakan dana dari KONI untuk membiayai atlet asli Banten, malah meminjam atlet dari luar daerah. Akhirnya, tidak ada satu pun atlet pinjaman itu yang lolos PON. “Malah ada satu atlet yg dengan biaya sendiri ikut Pra PON dan lolos, sekarang sudah masuk tim PON Banten ke Papua tahun depan,” terangnya.
Tak berhenti sampai disitu, Ramang Agus pun dituding suka semena-mena, mendzolimi banyak atlet, apalagi selama dua bulan belakangan ini atlet junior se-Banten tak boleh lagi bermain dan berlatih di Trek Sepatu Roda BSD Kabupaten Tangerang.
“Mereka berlatih di berbagai tempat, sampai harus ke Bekasi. Kami sudah minta kepada Ketua KONI Kabupaten Tangerang untuk dapat slot latihan, mudah-mudahan bisa terwujud. Kasihan anak anak calon penerus atlet sepatu roda Banten, mereka dari Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Lebak, Kota Serang, dan Kota Tangerang, terpaksa harus ke sana kemari untuk bisa berlatih,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ketua Umum Pengcab Porserosi Kota Serang, Wela Fitrianti. Kata dia, selama dipimpin Ramang Agus, pembagian peralatan tidak transparan, pengcab tidak pernah dapat bantuan, dan latihan gabungan (latgab) atlet dihilangkan dengan alasan tidak diizinkan oleh KONI Kabupaten Tangerang.
“Setelah kami ramai-ramai datang ke KONI Kabupaten Tangerang, tidak benar. Malah mempersilahkan asal tidak mengganggu jadwal latihan atlet lainnya. Makanya, kita mosi tidak percaya saja,” ucapnya
Terbaru, besok keempat pengcab akan melakukan mediasi dengan pihak KONI Banten. “Karena untuk mengajukan mosi tidak percaya ke pusat harus ada surat rekomendasi dari KONI setempat,” ujarnya.
Ramang Agus sendiri membantah seluruh tudingan yang dialamatkan kepadanya. “Untuk susunan organisasi di pengprov semua pengurus pengcab se-Banten, Ketua Harian saja dari pengcab Kabupaten Tangerang, jadi kalau dibilang menjalankan organisasi seperti perusahaan keluarga semua tidak benar,” jabarnya.
Terkait dana bantuan, bisa dilihat ke KONI Banten, dana yang diterima tidak ada untuk pengcab. Alokasinya jelas. “Dan soal pemecatan pak Hengky dari jabatan pelatih Pelatda PON XX Papua, merupakan hasil evaluasi selama satu tahun yang tak ada perkembangan terhadap atlet,” pungkasnya.(muh)















