SERANG – Banten dipastikan tanpa cabang olahraga (cabor) petanque pada pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2020 Papua. Ini diketahui, setelah hanya menduduki peringkat sembilan perolehan medali babak prakualifikasi yang berlangsung di DKI Jakarta, pada 26-31 Agustus lalu.
Dari data yang didapat, petanque Banten berada diurutan sembilan dengan torehan satu perak dan satu perunggu. Untuk juara umum disabet Aceh dengan tiga emas, satu perak, dan satu perunggu. Lalu di runner-up ada Jawa Timur dengan koleksi tiga emas dan satu perak serta diikuti tim Sumatera Utara di bawahnya dengan raihan dua emas, satu perak, dan tiga perunggu.
Satu perak Banten disumbang nomor double women atas nama Noor Afridha Widyaningrum/Tiara Amanda Virgianty. Lalu perunggu didapat kategori single wowen, Ulfah Dian Pratiwi.
Tapi sesuai dengan kesepakatan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Pengurus Besar Federasi Olahraga Petanque Indonesia (PB FOPI), hanya daerah yang menduduki posisi satu sampai tujuh di klasemen akhir perolehan medali Pra PON yang berhak tampil di Bumi Cenderawasih (julukan Papua). Bukan atlet yang menyabet medali.
“Jadi Pra PON petanque itu berbeda dengan cabor lain. Meski atlet Banten dapat perak dan perunggu, sayangnya tak bisa berlaga di Papua. Kan Bantennya hanya ada di urutan sembilan perolehan akhir medali,” kata Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) FOPI Banten, Andi Razak Wawo, Selasa (2/9/2019).
Andi sendiri mengaku kecewa. Soalnya pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Petanque 2018, mampu meraih satu emas dan satu perunggu. “Sekarang menurun dan kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kalah,” ucapnya.
Meski demikian, kegagalan sekarang tak jadi batu sandungan dirinya untuk tetap membina atlet. Apalagi bila melihat di Pra PON kemarin, anak-anak menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. “Sayang bila off, pembinaan akan terus kami geber,” tekadnya.
Pada kesempatan yang sama, pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) PB FOPI tersebut membeberkan, peluang Banten ke PON XX sebenarnya masih ada.
“Itu bila penyelenggaraanya tidak di Papua. Bila di sana mustahil. Tapi kalau jadi di pindah karena gejolak kerusuhan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di Bumi Cederawasih, kesempatannya ada. Keputusan bisa diubah. Atlet Banten dapat medali dan itulah yang akan saya perjuangankan,” pungkasnya.(muh)














