SERANG – KONI Banten semakin gencar mematangkan kesiapan atlet menuju babak Prakualifikasi Pekan Olahraga Nasional (Pra PON), melalui program Pelatda Jangka Panjang (PJP). Agar maksimal, induk olahraga di Banten ini membentuk tim monitoring.
Pembentukan tim monitoring dilakukan setelah KONI Banten mendapat salinan SK dari KONI Pusat, terkait cabang olahraga (cabor) yang akan melaksanakan Pra PON. Di mana pada SK yang diterima saat mengikuti Munas KONI Pusat, ditetapkan PON XX/2020 di Papua akan menggelar 47 cabor.
“Pembentukan tim monitoring, untuk memastikan bahwa persiapan Pra PON yang dilakukan sudah sesuai dengan program yang telah disusun oleh pengurus provinsi (pengprov) olahraga maupun KONI Banten. Kami ingin semua pengprov yang akan tampil di Pra PON maupun PON berkomitmen bersama-sama mengawal PJP secara optimal,” ucap Hengky S Bremer, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Banten.
Pembentukan tim monitoring diungkap Hengky, juga bertujuan agar KONI Banten bisa mengambil langkah antisipasi jika pelaksanaan PJP menghadapi kendala atau masalah. Sehingga kedua program tidak tersendat.
“Kami tidak ingin ada masalah yang mengganggu persiapan atlet dan pelatih. Tugas mereka hanya menyiapkan diri sebaik-baik dan mencapai target yang ditetapkan. Soal lainnya biar KONI dan pengprov yang menghadapinya,” jelasnya.
Hal tersebut diamini oleh Ketua Umum KONI Banten, Rumiah Kartoredjo. Kata dia, apa yang akan dilakukan adalah upaya sinergi agar semakin kuat antara KONI, Pengprov, dab peserta PJP untuk memenuhi capaian yang diinginkan bersama.
Dengan adanya tim monitoring, mantan Kapolda Banten berharap, hasil yang didapat bisa lebih efektif dan akurat. Terutama dalam mencapai target menembus PON dengan menempati posisi tiga besar Pra PON.
“Saya ingin tim monitoring benar-benar intens melakukan pemantauan dan harus cepat memberi laporan jika ada kendala di lapangan. Kalau ada atlet yang cedera segera beritahu dan kita tangani. Atlet harus benar-benar diperhatikan,” pungkasnya.(muh)













