SERANG – Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah meminta agar masyarakat mengelola singkong secara mandiri sebagai pengganti nasi saat sarapan pagi. Hal itu, dikatakan Tatu setelah membuka Lomba Cipta Menu di halaman Pendopo Bupati Serang, Selasa (24/9/2019).
Tatu menjelaskan, melalui kegiatan ini, masyarakat sudah membuktikan bisa menciptakan rasa makanan yang berbahan dasar singkong dan sukun dengan sedap serta enak dipandang mata.
“Warga sudah bisa membuat makanan dari olahan singkong dengan baik untuk sarapan,” paparnya.
Makanya, kata dia, sosialisasi pasca acara tersebut sangat penting. Kususnya ibu-ibu PKK yang jadi peserta perwakilan tiap kecamatan, harus masif memberitahukan olahan bahan lainnya kepada Ibu Rumah Tangga (IRT).
“Kan mereka (IRT) yang menyiapkan sarapan pagi. Pastinya suami dan anak akan menyantap apapun yang disiapkan,” ucapnya.
Hingga sekarang, diakui wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Asosisasi Kabupaten (Askab) PSSI ini, dampak dari Lomba Cipta Menu sudah terlihat karena agenda rutin Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), namun belum masif. “Yang saya tahu, untuk sarapan anak-anak di beberapa PAUD sudah berjalan,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa olahan singkong bisa meringankan beban masyarakat dalam roda perekonomian dan kesehatan. “Harganya murah dan kadar gulanya sendiri lebih sedikit dibandingkan beras. Rata-rata penderita diabetes banyak mengkonsumsi nasi. Ayo kita menuju hidup sehat dengan cari makanan pengganti. Kita coba saja dulu untuk pagi hari, nasi diganti singkong,” pesannya.
Meski demikian, orang nomor satu di Kabupaten Serang itu mengungkapkan bahan bakunya masih sulit didapat. Untuk membuat tepung mocaf, aci singkong, memang tidak bisa bila tak ada singkong.
“Jadi pekerjaan rumah Pemkab Serang juga. Langkah awal, meminta masyarakat untuk menanam singkong di pekarangan rumahnya yang masih ada lahan. Nanti kita akan sosialisasi,” tuturnya.
Kepala DKPP Kabupaten Serang, Suhardjo menyampaikan, kini sedang pelan-pelan merubah mindset orang-orang bahwa sumber karbohidrat bukan hanya nasi.
“Ada banyak. Di kami saja, makanan lokal yang terdata ada ubi, mantang, gandum, sukun, singkong, pisang kepok. Jadi jangan tergantung dengan nasi saja,” katanya.
Bayangkan, bila jadi masyarakat di Pulau Tunda. Saat gelombang air laut sedang tinggi, warga tidak bisa menyebrang ke daratan untuk membeli beras. Mereka memakai pangan alternatif lainnya yaitu sukun. “Kita pun harus sama. Tidak usah khawatir bila tidak ada beras. Toh ada bahan lainnya,” terangnya.
Dirinya akan mencoba menyusun strategi untuk lingkup Pemkab Serang saja dulu. “Akan coba mencanangkan program satu hari tanpa nasi. Nanti kami siapkan bahan makanannya dan makan bareng dengan Bupati,” pungkasnya.(muh)













