SERANG – President Direktur mens kontraktor PT Inti Bumi Perkasa (IBP), Dharmizon Piliang, mengklaim bahwa segelintir warga Kecamatan Padarincang yang menolak proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau gheotermal, hanya persoalan tingkat pemahamannya saja yang belum nyambung.
“Kami kan sudah sering datang ke warga-warga untuk melakukan sosialisasi. Soalnya ini mendukung program pemerintah yakni elektrifikasi nasional,” ucapnya.
Bahkan beberapa hari yang lalu, pihak perusahaan juga menggelar kegiatan serupa dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang dan warga.
“Makanya saya yakin masih ada yang belum begitu paham. Padahal sudah ada contohnya di PLTPB Kamojang, Garut, tidak ada masalah. Bila sudah paham, saya rasa semuanya bisa menerima,” tuturnya.
Lagipula, bila PLTPB Padarincang terlaksana, yang diuntungkan masyarakat sekitar. Sekarang saja, baru survei lokasi, tenaga non skillnya sebanyak 70 persen adalah penduduk lokal.
“Kita tidak seperti para investor asing yang datang ke Indonesia lalu membawa tenaga kerja dari sana. Warga sekitar kami beri kesempatan karena memang ini semua untuk mereka,” jelasnya.
Pihaknya hanya berharap, bisa memulai pekerjaan proyek ke tahapan tajak sumur maksimal pada awal Oktober nanti. “Supaya proses explorasi 30 megawatt dari target yang sebenarnya diharapkan adalah 110 megawatt bisa berjalan dulu,” bebernya.
Disinggung berapa luas lokasi yang digunakan untuk PLTPB, Dharmizon membeberkan 1,2 hektare. Tapi lahan yang digunakan ada di dalam hutan dan milik Perhutani. “Kita berusaha meminimalisasi agar tidak bersinggungan dengan warga,” terangnya.(muh)












