SERANG – Nasib pilu menyelimuti cabang olahraga (cabor) anggar. Di mana mereka dipastikan tidak akan berlaga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2020 Papua.
Kepastian ini didapat, usai tak ada satupun atlet yang mampu berprestasi di babak parakualifikasi PON, yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, awal pekan ini.
Capaian terbaik atlet anggar Banten dari total 12 atlet yang dikirim, hanya babak enam besar. Yakni di nomor sabel beregu putra, yang diperkuat oleh Chikaal, Iman, Latif Asukron, dan Jayanto Nanda.
Sekretaris Umum Pengurus Provinsi Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Pengprov Ikasi Banten), Nano Suryano mengaku kecewa.
Apalagi, salah satu faktor kegagalan di Pra PON karena minimnya Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) yang dilaksanakan. Atlet hanya melangsungkan pelatda selama kurang lebih tiga bulan untuk desentralisasi dan satu bulan penuh untuk sentralisasi, sesuai arahan dari KONI Banten.
“Saya menilai, pelatda kami terlalu pendek. Tak sebanding dengan target yang dicanangkan KONI Banten yaitu harus tiga besar bila ingin diboyong ke Papua. Beda jauh dengan provinsi lain seperti Kalimantan Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta yang melaksanakan Training Camp (TC) lebih lama,” keluhnya.
Kemudian, cabor anggar pun hanya dijadikan cabang eksebisi saat Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Banten 2018. Hal tersebut tentunya berdampak terhadap psikologis atlet sehingga tak maksimal di Pra PON.(muh)














