BOGOR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten memberikan dukungan agar pondok pesantren di Banten bisa menciptakan inovasi berupa produk kebutuhan yang bisa dipakai sendiri. Hal tersebut merupakan bagian dari pengembangan ekonomi syariah.
Kepala Tim Pengembangan Ekonomi KPw BI Banten, Sugeng Siswanto menjelaskan, berdasarkan informasi dari Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP), sedikitnya ada 4.000 pondok pesantren di Banten.
Nah, jika seluruhnya bisa mengembangkan kemandirian di bidang ekonomi, maka hal itu otomatis juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kami mendorong agar pondok pesantren bisa mandiri, tidak hanya mengandalkan iuran dari para santri,” kata Sugeng dalam pemaparannya saat Capacity Building Wartawan Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata Banten di Sentul, Bogor, Sabtu (22/2/2020).
Diketahui, kata dia, santri yang mondok membutuhkan berbagai kebutuhan mulai dari peralatan mandi hingga makanan. Karenanya sebagai langkah konkrit, BI Banten mengadakan pelatihan untuk memproduksi sabun. Namun sekarang hanya bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan di pondok pesantren tersebut.
“Inilah yang sedang kami kembangkan. Selama ini kan unit usaha hanya ada di beberapa pondok pesantren makanya kami mengusulkan agar membuat koperasi sekunder yang bisa menampung seluruh koperasi primer tersebut,” jelasnya.
Ketika koperasi sekunder berdiri, sambungnya, itu akan menjadi penggabungan dari koperasi primer. Ia mencontohkan, pondok pesantren A menciptakan sabun, pondok pesantren B menciptakan sampo, jika ada yang menampung di koperasi sekunder produk-produk tersebut bisa menyuplai pondok pesantren lainnya.
“Hubungan perdagangan antar pondok pesantren itu bisa menguntungkan. Ini merupakan salah satu potensi yang bisa mengembangkan ekonomi syariah di Banten, dan Indonesia pada umumnya,” ungkapnya.(net)













