JAKARTA – Rangkaian demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini menampakkan gejala yang unik. Banyak poster-poster lucu bertebaran.
Itu tak bisa dianggap remeh. Meski lucu, poster-poster jenaka tersebut efektif mendorong perubahan.
Hal itulah yang disoroti pemerhati budaya dan komunikasi digital dan pendiri LITEROS.org, Firman Kurniawan. Ia melihat munculnya poster-poster lucu ini sebagai pembeda dengan demonstrasi para aktivis senior dulu.
“Zaman unjuk rasa Mei 1998 yang melahirkan reformasi tentu beda dengan zaman teknologi informasi, 2019 ini. Sekarang adalah era intensifnya penggunaan mikroelektronik, yang ditandai oleh tsunami informasi,” kata Firman dalam keterangan tertulis, Rabu (2/10/2019).
Demonstrasi itu sendiri menolak berbagai rancangan undang-undang (RUU) yang bergulir di DPR dan menolak Undang-Undang KPK. Itu isu berat, tapi kaum mahasiswa mampu membuatnya gampang dicerna. Mereka menerapkan logika dunia hiburan untuk membangun daya tarik khalayak.
Contoh poster lucu mereka berbunyi seperti ‘Jangan lupa pakai skincare’, sebab cuaca saat berlangsungnya unjuk rasa terasa sangat menyengat. Panasnya udara ini juga memunculkan tawaran ‘Jastip es teh’, di tengah-tengah ungkapan tuntutan. Tuntutan yang relevan, namun dengan nada tak serius, ‘Cukup cintaku yang kandas, KPK Jangan’.(dtc)












