SERANG – Program 100 hari kerja yang digaungkan Walikota Syafrudin dan Wakil Walikota Serang Subadri usai dilantik beberapa waktu yang lalu, dinilai gagal.
Hal itu disampaikan puluhan mahasiswa Kota Serang yang menamakan diri mereka Serikat Mahasiswa Sosial Demokratis (SWOT), saat melakukan unjuk rasa di depan UIN SMH Banten, Jumat (8/3/2019).
“Kenapa kami nilai gagal, itu terlihat jelas dengan ketidakadilan yang diterima para Pedagang Kaki Lima (PKL) di Stadion Maulana Yusuf. Penataanya tidak jelas. Yang tidak pro terhadap pemerintah harus tunduk pada kebijakan,” papar Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Nahrul
Seharusnya, kata dia, Pemkot Serang bisa lebih bijak. Bila memang PKL ingin dipindahkan ke kawasan lain dalam hal ini di Lapangan Kepandean, semuanya diperjelas dulu. Diskoperindag selaku dinas terkait harus memiliki konsep matang, sehingga relokasi bisa dilakukan dengan baik.
“Sekarang yang ada semrawut. Tempat relokasi belum siap. Jangan ada kesan malah memiskinkan PKL donk,” keluhnya.
Tidak hanya memprotes keras kesejahteraan PKL, aksi demo pun kritik kebersihan sampah di Kota Serang. Khusunya TPSA Cilowong yang sudah mencemari lingkungan dan udara di wilayah sekitar.
Selanjutnya, program yang dicap gagal juga adalah realisasikan Perda no. 4 Tahun 2014 dan reformasi birokrasi yang belum transparan.
Dari aksi ini, Globalonline.co.id saat ingin mengkonfirmasi Wakil Walikota Serang Subadri tidak bisa dihubungi.(yan)













