SERANG – Angka Kematian Bayi (AKB) di triwulan pertama Kabupaten Serang cukup tinggi. Tercatat, dari awal Januari sampai akhir Maret 2019 ada 50 bayi yang meninggal dunia.
Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa membenarkan hal tersebut. Oleh karenanya, dirinya meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) jangan hanya terpaku meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan yang ada. Tapi juga memperhatikan perkembangan AKB yang setiap tahun mengalami peningkatan.
“Ini warning sekali bagi kita. Harus dicarikan solusinya, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Yang banyak di wilayah Kopo dan Jawilan yang saya tahu,” tutur Pandji.
Orang nomor dua di Kabupaten Serang menduga, kemungkinan penyebab banyaknya bayi yang meninggal di triwulan pertama karena kurang berhasil saat persalinan, tidak melalui posyandu, dan tidak menggunakan fasilitas yang sudah disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang.
“Maklum, masih banyak yang menggunakan jasa dukun beranak. Nah, yang saya takutkan, dukun beranak kurang terlatih. Seperti contoh saat memotong ari-ari tidak bisa sembarangan. Bila salah, yang ada kena infeksi tetanus. Pas sang ibu kejang-kejang malah dibilangnya kesurupan, padahal bukan. Itu kan bisa jadi salah satu faktor pemicu kematian bayi,” bebernya.
Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Serang, Sri Nurhayati mengakui bahwa jumlah AKB memang sudah mencapai 50.
Hanya saja, menurut dia bukan karena Dinkes tidak fokus. Rata-rata karena bayi kecil, anemia masih kecil, resiko pendarahan saat hendak melahirkan tinggi, perubahan pola hidup, dan ada juga dari dukun beranak.
“Ya kan dukun beranak termasuknya sosial budaya. Kami sudah sering dan gencar kok melakukan sosialiasi ke setiap desa, kecamatan, membawa edaran Bupati supaya ibu melahirkan dibawa ke Posyandu atau Puskesmas terdekat saja agar mendapatkan pertolongan pertama yang sesuai dengan standar kesehatan,” terangnya.
Disinggung untuk jumlah AKB triwulan pertama 2018 sendiri, Plt Direktur Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) menuturkan tidak hafal angka pastinya. Yang jelas memang ada peningkatan.
Ia juga menerangkan, selain AKB, yang harus diperhatikan adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Hingga triwulan pertama sudah mencapai 20 orang. Padahal, sepanjang 2018 hanya 58 orang.
“Bila kami pukul rata saja empat triwulan, berarti bisa-bisa di akhir 2019 AKI mencapai 80 orang. Harus segera diantisipasi baik AKB maupun AKI. Kami (Dinkes) berjanji akan berusaha menekan persentasi keduanya,” tegasnya.(muh)













