SERANG – KONI Banten pada pekan depan akan memanggil Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Pengprov Porserosi) Banten Ramang Agus. Ini buntut mosi tidak percaya yang dilayangkan empat pengurus cabang (pengcab) organisasi tersebut.
Hal itu disampaikan Ketua Bidang Hukum KONI Banten, Engkos Koswara Purwasasmita.
Kata dia, pihaknya akan memanggil Ramang Agus untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. “Kalau hari ini, kami sudah panggil keempat pengcab Porserosi yang membuat mosi tidak percaya. Dari Kota Tangerang Selatan, Kota Serang, Pandeglang, dan Lebak, jadi next Ketum Pengprov Porserosi Banten. Kemungkinan besar pekan depan,” papar Koswara usai pertemuan di ruang Sekretaris Umum KONI Banten, Senin (12/10/2020).
Pemanggilan pengcab sendiri, lantaran KONI Banten ingin mengetahui lebih detail kenapa adanya surat pengajuan mosi tidak percaya terhadap Pengpov Porserosi Banten. “Nah kita kan ingin tahu apa sih masalah sebenarnya sampai meminta pergantian ketua umum. Kami sebatas mencari, mengidentifikasi masalah saja,” ucapnya.
Poin yang disampaikan pengcab, salah satunya ada keberpihakan kepada salah satu daerah. Seharusnya tidak berbicara untuk satu kabupaten atau kota saja, melainkan Banten. “Mudah-mudahan KONI Banten bisa mendamaikannya. Bila tidak selesai, bukan kewenangan kita, itu urusan mereka nanti dan sebetulnya ranah mosi tidak percaya ini mestinya menjadi ranah pusat,” jelasnya.
Sementara Ketua Pengcab Porserosi Kota Tangerang Selatan, Hengky Hendrayana Surya mengaku sudah menyampaikan seluruh unek-unek yang dipendam selama ini bersama beberapa rekan-rekan lainnya.
“Tuntutan kami jelas dan menurut saya kalau sudah seperti sekarang, berarti Porserosi Banten udah nggak sehat. Karena seperti perusahaan gitu loh, hanya diam-diam saja dan dia (Ketum Porserosi Banten) bisa memutuskan sesuka hatinya,” bebernya.
Disinggung adanya rencana mediasi dari KONI Banten usai pemanggilan Ketum Pengprov Porserosi Banten, Hengky menyatakan tak akan bergeming. “Kita akan tetap ke pusat, karena ingin adanya pergantian ketum baru,” tekadnya.
Pasalnya, bila masih ada orang-orang tersebut, maka akan tetap sama. “Hanya memikirkan kepentingan-kepentingan pribadi di atas kepentingan Banten sendiri,” ujarnya.
Contohnya, dirinya diajukan kepada KONI Banten untuk diberhentikan sebagai pelatih Pelatda PON XX Papua.
“Saya sendiri nggak pernah ditanya apa-apa, tiba-tiba dipecat dan saya baca di koran alasannya atlet saya tidak berprestasi. Oh luar biasa itu, atlet saya yang bernama Hafis dan tergabung di Pelatda PON Banten sudah tembus 200 ITT Dengan catatan 16,2 detik. Rekor nasional itu, dibilang nggak ada prestasi,” bebernya.
Dia pun menjabarkan, ada yang janggal dengan pemecatannya karena bentuknya hanya notulen rapat dan yang menandatangani adalah Ketua Bidang Organisasi Pengprov Porserosi Banten.
“Ketika saya konfirmasi ke yang bersangkutan, beliau merasa dijebak untuk menandatanganinya. Ada rekamannya di saya selama 45 menit. Nanti saya mau minta secara tertulis bahwa beliau merasa dijebak karena waktu didatangi sebetulnya untuk ngasih kaos. Pesen kaos begitu pesan kaos langsung suruh rapat, beliau tidak tahu apa-apa suruh teken-teken saja,” pungkasnya.(muh)















